Sabtu, 06 Februari 2010

Segitiga Cinta

Segitiga Cinta


Cinta cinta cinta. Topik universal yang sering dibicarakan di mana-mana. Tahukah Anda bahwa 95% lagu pop di Indonesia bertemakan tentang cinta? Ya, para seniman mengatakan bahwa cinta tidak ada matinya. Artinya, cinta akan selalu jadi topik pembahasan yang menarik. Menarik karena lika-liku cinta tidak akan pernah habis dibahas, juga menarik karena setiap orang pasti punya kenangan tersendiri tentang kisah cintanya masing-masing.
Jangan mau kalah dari para musisi dan pujangga, mari kita bahas topik pembicaraan yang selalu hangat ini, khususnya dari sudut pandang psikologi. Anda yang masih bingung apa arti cinta, seperti apa bentuk cinta, dan bahkan kenapa cinta bisa terjadi, silakan simak artikel ini dengan seksama. Perhatikan baik-baik karena cinta yang dibahas di sini adalah fakta, bukan sekedar puisi cinta yang membuai Anda dengan angan-angan. Sudah siap bertemu dengan wajah cinta yang sesungguhnya? Mari kita mulai.
Tentu Anda sudah familiar dengan pertanyaan “dari mana datangnya cinta?”. Kira-kira apa ya jawaban dari pertanyaan ini? Apa benar cinta datang dari mata turun ke hati?Sayangnya tidak sesederhana itu. Robert Sternberg, seorang psikolog, berpendapat bahwa cinta dalam sebuah hubungan interpersonal memiliki tiga komponen dasar. Dengan kata lain, ketiga komponen dasar inilah yang nantinya akan membentuk cinta. Tiga komponen cinta tersebut adalah:
1. Keintiman (Intimacy)
Keintiman adalah kedekatan yang ada antara dua individu. Kedekatan di sini bisa dalam arti kedekatan fisik, maupun kedekatan emosional. Rini dan Jaka yang selalu terlihat ke mana-mana berdua bisa dikatakan memiliki kedekatan fisik, namun belum tentu mereka memiliki kedekatan emosional. Ternyata Rini lebih memilih menceritakan keseharian dan masalah-masalahnya kepada sahabatnya Tina yang saat ini berada di Jepang. Dengan demikian, Rini memang tidak memiliki kedekatan fisik dengan Tina, tapi ia memiliki kedekatan emosional yang sangat kuat pada sahabatnya tersebut.
Keintiman sangat tergantung pada tingkat kepercayaan (trust) satu individu kepada individu yang lain. Contohnya Rini, yang percaya bahwa Jaka tidak akan memberikan dampak buruk terhadap dirinya. Rini bahkan percaya bahwa bergaul dengan Jaka akan berdampak positif, karena Jaka memiliki banyak pengalaman yang bisa Rini pelajari. Oleh karena itu Rini tidak keberatan untuk menghabiskan banyak waktu bersama Jaka. Meski begitu, mungkin Rini belum mempercayai Jaka sedalam ia mempercayai Tina, sehingga Rini hanya mau membagi pikiran, perasaan, dan emosi-emosi terdalamnya pada sang sahabat Tina.
2. Gairah (Passion)
Berasal dari kata latin patior yang berarti penderitaan atau perasaan tersiksa, gairah dapat didefinisikan sebagai emosi yang sangat kuat dan mendalam (terkadang tidak terbendung) terhadap seseorang. Emosi yang kuat ini terkadang bahkan mengalahkan hukum-hukum pemikiran logis. Kalimat “yang kumau hanya kamu” mungkin adalah ungkapan yang paling tepat dalam menggambarkan gairah. Dalam gairah, ada sebentuk keinginan untuk selalu bersama yang sangat kuat, dan tidak tergantikan dengan orang lain. Gairah juga dapat diartikan sebagai dorongan seksual terhadap seseorang.
Misalkan Rini yang baru saja menyaksikan kehebatan atasannya melakukan negosiasi bisnis dengan klien. Pada awalnya mungkin Rini hanya merasa kagum, namun gairah Rini timbul seiring dengan munculnya keinginan (dan usaha) Rini untuk terus menerus bisa dekat dan akrab dengan atasannyatersebut. Pada kenyataannya, mungkin saja sang atasan sama sekali tidak punya perhatian khusus padanya. Mungkin ia hanya menganggap Rini sebagai salah satu dari 25 bawahannya yang lain sehingga tidak ada kedekatan spesial antara ia dan Rini.
3. Komitmen (Commitment)
Merupakan perasaan saling terikat yang ada antara dua individu. Keterikatan ini diproyeksikan untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga komitmen juga bisa diartikan sebagai kesetiaan yang terjalin antara dua individu. Dalam komitmen, seseorang akan merasa apapun yang ia lakukan akan mempengaruhi individu yang lain, demikian juga sebaliknya.
Ketika dua orang membentuk sebuah komitmen bersama maka dapat diibaratkan seperti kedua orang tersebut bersama-sama masuk ke dalam perahu menyusuri sungai. Apapun yang mereka temui dan alami dalam perjalanan, mereka berdua memiliki perjanjian untuk tetap bersama dalam perahu. Ketika salah satu dari mereka keluar dari perahu, maka komitmen mereka telah dilanggar.
Selanjutnya, ketiga komponen di atas membentuk sebuah segitiga, Segitiga Cinta. Ketiga komponen cinta tersebut kemudian dapat saling berkombinasi untuk membentuk 7 jenis cinta yang berbeda. Berikut adalah bagan Segitiga Cinta, disertai tabel yang menunjukkan tipe-tipe cinta yang dapat terbentuk dari ketiga komponen cinta:


KEINTIMAN GAIRAH KOMITMEN
1. Cinta Teman Ya
2. Cinta Monyet Ya
3. Cinta Hampa Ya
4. Cinta Romantis Ya Ya
5. Cinta Setia Ya Ya
6. Cinta Buta Ya Ya
7. Cinta Sejati Ya Ya Ya
Sudah jelas sekarang bahwa ada 7 (tujuh) sisi wajah cinta. Prenahkah Anda menyangka akan ada begitu banyak tipe cinta? Apakah Anda telah mengenal semuanya? Mari kita bahas setiap tipe cinta ini lebih lanjut. Mungkin saja Anda bisa menemukan cinta mana yang telah atau sedang Anda temui dalam hidup.
1. Cinta Teman
Cinta ini hanya terdiri dari komponen keintiman, dimana antara individu yang mengalami jenis cinta ini terjalin sebentuk kedekatan fisik maupun emosional. Menurut Sternberg, cinta jenis ini biasanya terjadi di hubungan pertemanan dimana kedua pihak merasakan ada hubungan dekat yang hangat, tapi tidak disertai dengan emosi yang mendalam (gairah) maupun komitmen jangka panjang. Anda tentu tidak keberatan jika teman Anda harus melanjutkan studi atau pindah kerja ke kota lain, bukan? Dalam cinta teman, tidak ada keterikatan yang memaksa masing-masing pihak untuk selalu bersama-sama.
2. Cinta Monyet
Seperti yang kerap dibicarakan, istilah Cinta Monyet bisa digambarkan seperti cinta para remaja, atau cinta pada pandangan pertama. Inilah cinta yang dari mata turun ke hati dimana ketika melihat objek cinta, timbul gairah untuk selalu bersama walaupun mungkin sebenarnya tidak ada kedekatan yang terjalin. Gairah merupakan satu-satunya komponen cinta yang ada di tipe cinta ini. Dalam Cinta Monyet tidak ada kedekatan emosional yang terjalin dan juga tidak ada komitmen. Oleh karena itu, seringkali cinta seperti ini mudah timbul dan juga mudah hilang.
3. Cinta Hampa
Dalam cinta ini hanya ada komponen komitmen. Banyak cinta yang berubah menjadi Cinta Hampa seiring dengan waktu. Hubungan yang pada awalnya terasa hangat dan bergairah, terkadang berubah menjadi hampa karena komponen keintiman dan gairah telah luntur. Namun pada hubungan yang dijodohkan, seringkali yang terjadi adalah sebaliknya dimana pasangan tersebut memulai dari cinta yang hampa (komitmen yang dipaksakan) namun seiring waktu mulai timbul keintiman dan gairah.
4. Cinta Romantis
Pasangan yang terlibat dalam cinta ini akan terlihat sangat asik bersama-sama karena adanya keintiman. Selain itu, pasangan Cinta Romantis juga akan memiliki gairah yang mendalam terhadap satu sama lain. Oleh karena itu, pasangan cinta inilah yang biasanya disebut mabuk cinta. Meskipun demikian, pasangan mabuk cinta belum tentu ingin selamanya bersama-sama. Dalam tipe cinta ini tidakada komitmen karena seringkali dirasa mengekang kenikmatan dimabuk cinta itu sendiri.
5. Cinta Setia
Cinta jenis ini sering ditemui di dalam pernikahan atau hubungan yang telah cukup lama terjalin dimana gairah dalam hubungan tersebut sudah pudar, namun masih ada keintiman dan komitmen yang lekat. Secara umum, Cinta Setia adalah hubungan yang Anda jalin dengan seseorang yang sudah cukup lama berbagi suka-duka dengan Anda. Cinta Setia lebih kuat dibanding Cinta Teman karena adanya komponen komitmen. Selain dalam hubungan pernikahan, Cinta Setia juga bisa ditemui di dalam hubungan persahabatan yang erat dan juga di antara kerabat keluarga.
6. Cinta Buta
Dinamakan Cinta Buta karena komponen pembentuknya hanyalah gairah dan komitmen. Jenis cinta ini cenderung bersifat menderu-deru karena tidak ada keintiman yang dapat menstabilkan sebuah hubungan. Cinta Buta ini bisa berdampak negatif karena biasanya melibatkan keinginan memiliki yang mengikat tiap individu. Padahal, mungkin saja hubungan tersebut tidak lagi berfungsi positif, terbukti dengan tidak adanya rasa percaya sehingga kedekatan antara individu tidak terjalin.
7. Cinta Sejati
Inilah cinta yang diidam-idamkan semua orang. Cinta ini cinta yang paling sempurna dengan adanya komponen keintiman, gairah, dan komitmen. Keberadaan ketiga komponen cinta membuat cinta ini cenderung berjalan secara stabil. Komitmen yang terjalin dalam cinta ini didasari pada rasa saling menghormati (karena adanya hubungan yang dekat secara fisik maupun emosional), dan juga hasrat untuk selalu bersama yang sangat kuat. Hal ini membuat Cinta Sejati akan lebih langgeng dibanding jenis cinta lain.
Nah, setelah mengetahui Segitiga Cinta dan ketujuh tipe cinta, kini Anda sudah bisa mulai menganalisis setiap hubungan yang ada dalam hidup Anda. Bahkan jika Anda memiliki permasalahan cinta, sekarang Anda sudah bisa mengidentifikasi apa yang salah dalam hubungan cinta Anda. Anda bisa melihatnya dari sudut pandang komponen apa yang hilang dalam cinta Anda, kemudian Anda bisa berusaha untuk mengembalikan komponen cinta yang hilang tersebut untuk kembali membentuk Cinta Sejati. Semoga bermanfaat!

Marah? Taklukkan!

Coba renungkan sebentar, kapan terakhir Anda marah? Barangkali belum lama, mungkin baru kemarin, tadi pagi, atau beberapa menit yang lalu. Ya, rasanya sebagai manusia normal kita akan pernah berada dalam situasi diliputi amarah. Dan di bulan puasa ini ketika kita diminta menjaga hati, kian terasa betapa sulitnya mengendalikan setan kecil pengganggu bernama “marah” itu. Apa sih sebetulnya “marah” itu? Marah itu baik atau buruk? Bagaimana mengelola amarah? Nah, daripada marah-marah, mari kita simak penjelasan berikut ini.
MARAH
Marah adalah respon normal terhadap perasaan terancam atau frustrasi. Sulit untuk meniadakan sama sekali amarah dari kehidupan kita. Kita selalu akan sampai pada suatu situasi yang memancing amarah. Marah adalah suatu keadaan emosional yang intensitasnya bisa beragam, mulai dari perasaan terganggu yang ringan, hingga amarah yang ekstrim dan mengandung kekerasan. Seperti emosi lainnya, marah diikuti perubahan keadaan tubuh, termasuk meningkatnya tingkat adrenalin dan denyut jantung yang lebih cepat.
Marah adalah reaksi spontan, bukan tindakan yang direncanakan. Marah tidak ditabukan masyarakat (karena semua orang bisa marah) sehingga orang bisa merasa leluasa saja mengekspresikan amarah. Perasaan-perasaan yang mendasari reaksi marah sesungguhnya membuat kita merasa rentan dan lemah (perasaan terancam, frustrasi, diperlakukan tidak adil), tapi dengan marah kita merasa kuat dan memegang kendali, meski sejenak saja. Itu sebabnya orang mudah tergelincir ke dalam situasi marah.
Unik kan? Mari kita kupas si “amarah” ini lebih jauh. Semakin kita paham, mudah-mudahan semakin bijak kita menyikapinya.
MARAH ADA MANFAATNYA
Seringkali marah dianggap sesuatu yang buruk. Sebenarnya marah diberi konotasi negatif lebih karena sering dikaitkan dengan perilaku agresif bahkan kekerasan. Padahal, ada ahli yang meneliti dan ternyata marah yang diikuti tindakan agresi hanyalah 10%. Justru banyak sekali agresi muncul tanpa adanya unsur kemarahan. Nah, jadi jangan cepat-cepat menuduh marah itu jelek.
Tahukah Anda, marah ternyata bisa menyelesaikan problema relasi, wah! Marah-marah kecil di keseharian justru bisa membuat relasi semakin baik. Orang yang jadi target kemarahan bisa menjadi tersadarkan bahwa rupanya selama ini ia kurang memperhatikan orang lain. Dan dari isi kemarahan, ia menjadi lebih sadar bahwa ada suatu masalah yang mestinya diselesaikan. Tidak heran orang sering bilang “pertengkaran itu bumbunya pernikahan”. Seorang suami mungkin tidak pernah tahu bahwa meletakkan handuk sembarangan adalah hal yang sangat mengganggu bagi istrinya. Semasa masih hidup bersama orangtua, mungkin perkara itu tidak pernah jadi masalah. Baru ketika akhirnya sang istri menumpahkan amarahnya, ia menyadari apa yang menjadi harapan sang istri.
Tentu saja marah yang konstruktif mesti melibatkan kedua belah pihak yang berkonflik. Paling baik kalau orang yang marah mengekspresikan marahnya dengan tepat, menyampaikan inti masalahnya, bukan sekedar menumpahkan sumpah serapah yang tidak jelas. Yang dimarahi juga mesti ada usaha untuk mendengar dan tidak cepat-cepat menutup hati dan telinga untuk mendengar, lalu memberi reaksi yang tepat. Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi “Duh, saya mesti marah atau disimpan saja ya?”, tapi menjadi “Apa yang mesti kita lakukan untuk menyelesaikan masalahnya?”
Pada masa kanak-kanak, marah adalah salah satu cara mengukuhkan individualitas. Ketika kanak-kanak dulu, kita tidak suka dan menjadi marah kalau mainan kita diambil atau dirusak anak lain, kita juga tidak suka dibilang bodoh atau nakal. Marah membantu kita menghargai diri dan hak-hak kita. Bayangkan kalau anak Anda hanya diam dan menurut saja diperlakukan seperti apapun, mau jadi apa dia? Bagaimana pun anak mesti belajar bahwa dia adalah makhluk yang punya eksistensi. Jadi, jangan larang anak Anda untuk marah. Hingga batas tertentu, marah adalah perlu. Yang penting, latih dia untuk “marah dengan baik”.
Marah juga bisa memberi keberanian pada diri kita untuk mempertahankan diri dan orang yang kita sayangi. Kita pernah dengar ada ibu rumah tangga biasa yang tiba-tiba saja bisa nekat menghajar perampok dan menaklukkannya karena didorong rasa amarah. Marah juga bisa menjadi peringatan bagi orang lain untuk tidak seenaknya merugikan kita. Orang yang tidak bisa marah berisiko mengalami depresi, memiliki harga diri yang rendah, dan menjadi bulan-bulanan orang lain.
Marah juga bisa menjadi alat stratejik. Seorang politisi yang bisa mengekspresikan amarah dengan baik, memberi kesan ia memiliki sikap yang jelas tentang sesuatu, memberi kesan ia tahu tentang sesuatu itu dan punya pendirian tentang cara menyikapinya. Berbeda dengan persepsi yang muncul jika seorang politisi terus-terusan hanya mengekspresikan rasa sedih dan prihatin.
Bahkan marah bisa mengubah kultur!! Ingat bagaimana “amarah” R.A Kartini atas perlakuan masyarakat terhadap kaum perempuan telah membawanya merintis dan menginspirasi gerakan emansipasi wanita. Kesempatan luas yang kini dimiliki wanita Indonesia sedikit banyak berangkat dari amarah.
MARAH YANG TIDAK BERGUNA
Kadang-kadang marah memang cara yang paling tepat untuk menghadapi suatu situasi. Tapi kalau tidak dikelola dengan baik, marah bisa menjadi berlebihan atau tersimpan secara keliru dan berbalik menjadi masalah yang mengancam karier kita, relasi, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.
• Reaksi marah seseorang sangat beragam. Ada juga lho marah yang tidak terekspresikan secara langsung, tapi secara tak sadar mengambil salah satu mekanisme berikut ini.
Perasaan adalah juga kejadian fisiologis. Perasaan marah yang tidak terekspresikan ada kalanya dikendalikan dan diubah menjadi simptom-simptom psikosomatik seperti sakit kepala dan hipertensi atau penyakit-penyakit seperti sakit perut, arthritis, dan sebagainya. Ini disebut suppression, sesuatu yang ditekan dan muncul menjadi yang lain.
? Ada marah yang tidak diekspresikan dan digantikan oleh kecemasan atau ketakutan. Marah yang dimasukkan ke dalam diri dapat menyebabkan depresi atau perilaku destruktif. Ini disebut replacement, sesuatu ditukar dengan yang lain.
• Marah juga dapat dipindahkan dari seseorang yang sebenarnya membuat kita marah kepada orang lain yang kita anggap lebih mudah menjadi target kemarahan, misalnya marah kepada atasan kita pindahkan kepada anak. Yang ini istilahnya adalah displacement, penempatan yang keliru.
• Kadang kita mengekspresikan marah secara tidak langsung karena kita takut membuat orang tidak senang. Dalam hal ini marah diekspresikan secara pasif, bukan langsung. Misalnya, sebetulnya kita marah karena kemarin dibuat menunggu lama oleh teman kita, kita tidak menunjukkan amarah kita tapi sekarang kita yang sengaja datang terlambat. Ini namanya perilaku passive-aggressive, agresif yang tidak langsung.
• Ketika marah kadang-kadang kita membungkus fakta, memperlemah efeknya, atau bahkan menghindari situasi secara keseluruhan. Intinya, kita enggan menerima kenyataan yang sesungguhnya. Mungkin kita pernah mendengar korban kekerasan dalam rumah tangga yang mengatakan “Saya sama sekali tidak menyalahkan suami yang kerap memukuli saya hingga babak belur. Dia melakukan itu justru karena hanya dapat menumpahkan emosinya kepada saya sebagai satu-satunya orang yang dia kasihi.” Bisa jadi ini bentuk dari denial, respon menolak kenyataan.
• Kadang ada orang yang secara tak sadar selalu menekan amarahnya. Ketika marah ditekan, perasaan-perasaan lain juga dapat menjadi terhambat. Ini disebut repression. Energi yang digunakan untuk menekan perasaan-perasaan ini ke bawah sadar mengurangi energi yang mestinya bisa digunakan untuk menjadi lebih kreatif dan produktif.
Marah yang berlebihan, meledak-ledak atau justru tersimpan secara tidak sehat tentu saja tidak berguna. Mari kita periksa apakah amarah kita mulai berlebihan.
• Orang-orang sering mengingatkan Anda untuk lebih tenang
• Anda sering merasa tegang
• Di pekerjaan, Anda enggan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran Anda
• Ketika kesal, Anda selalu berusaha menyingkir dari dunia dengan menonton TV, membaca majalah, atau pergi tidur
• Anda harus merokok berat atau menggunakan obat penenang untuk membantu Anda lebih tenang
• Anda punya masalah tidur
• Anda sering merasa tidak dimengerti atau tidak didengar orang lain
• Orang-orang meminta Anda untuk tidak terlalu sering berteriak atau menyumpah
• Orang-orang terkasih Anda sering mengeluh bahwa Anda melukai perasaan mereka
• Teman-teman jarang mencari Anda
Kalau maksimal hanya dua ciri yang ada pada diri Anda, maka amarah Anda relatif bisa dikelola. Silakan Anda belajar teknik relaksasi. Kalau ada 3 hingga 5 ciri, maka tingkatannya moderat. Anda perlu menelusuri apa yang sebenarnya membuat Anda tertekan dan cobalah mempelajari teknik mengelola stress. Kalau sudah mencapai 6 ciri atau lebih, maka waspadai bahwa amarah Anda mulai di luar kendali, Anda punya masalah dengan amarah. Cobalah mencari bantuan dengan mengikuti konseling.
MENGELOLA AMARAH
Perilaku marah yang keliru sebetulnya hasil proses belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu, mungkin dari pola asuh orangtua semasa kecil, atau mungkin “tertular” perilaku agresif gang remaja kita dulu. Bisa juga karena sekitar kita mengukuhkan suatu perilaku marah yang sebetulnya tidak sehat, misalnya suami akan menuruti keinginan istri ketika sang istri mulai marah memecahkan piring, akibatnya perilaku itu jadi bertahan. Karena perilaku marah merupakan hasil belajar, maka kita juga bisa belajar untuk mengubahnya menjadi lebih sehat.
Cobalah berlatih melakukan relaksasi melalui teknik visualisasi. Bayangkan sesuatu yang sangat menyenangkan, damai dan menyejukkan hati. Terserah bentuknya apa. Biasanya orang memilih memvisualisasikan suatu tempat di pegunungan yang sejuk, ada sebuah dangau yang nyaman, terdengar gemericik air jernih dari sungai kecil yang melintas, kicau burung, dan seterusnya. Nikmati imajinasi tersebut hingga Anda merasa nyaman betul. Ketika suatu saat terasa Anda hendak marah, segera visualisasikan kembali suasana nyaman tersebut hingga efek relaksnya terbawa. Boleh juga tambah latihan dengan mencoba memvisualisasikan situasi-situasi yang sering memancing kemarahan Anda, rasakan kemarahan Anda, lalu segera ikuti dengan visualisasi situasi nyaman tadi. Rasakan redanya amarah tadi. Ulangi berkali-kali hingga suatu saat ketika situasinya muncul, Anda bisa merasakan mudahnya amarah Anda mereda.
Coba juga dengan cara “menyetel” pikiran Anda, cari “gelombang” yang lebih nyaman. Misalnya, ketika ada mobil lain sembarangan memotong jalan kita, mungkin biasanya otomatis kita berpikir “Kunyuk!! Minta digampar nih supir gak ada akalnya!!”. Coba ubah dengan alternatif lain yang lebih rasional, misalnya “Wah, kalau caranya begitu bisa tubrukan dong”. Sedikit lebih lunak kan? Atau ganti dengan “Ya ampun, untung tidak terjadi apa-apa dengan saya!”, nah malah muncul rasa syukur sebagai pengganti amarah. Marah sebetulnya adalah respon terhadap pikiran kita. Kalau pikiran kita “panas” ya munculnya emosi marah, kalau pikiran kita “dingin” maka si amarah menjadi lebih terkendali. Oleh karena itu, pikirannya yang diubah.
Mengenali dan menikmati sensasi amarah juga dapat membuat kita bisa mengakrabi amarah kita tanpa harus meluapkannya secara berlebihan. Kenali kehadiran si amarah, rasakan sensasi-sensasi fisik yang mengikutinya seperti otot-otot yang tegang dan hangat. Tarik napas panjang dan coba nikmati, sudah itu coba ungkapkan perasaan kita secara verbal. Mengenali perasan marah terhadap diri sendiri dan menghayati sensasi fisiknya adalah sesuatu yang penting untuk mencegah ekspresi yang merusak.
Marah pada anak? Ada tips klasik, hitung sampai sepuluh sebelum bertindak apa-apa. Jeda itu mencegah kita menumpahkan kata-kata pedas. Jeda itu membuat kita memfokuskan kembali energi pada tempatnya. Kalau sepuluh tidak cukup, lanjutkan hingga 20 atau 30. atau tinggalkan ruangan sejenak. Pergi keluar, dengarkan kicau burung atau desir angin di luar. Atau berbaring sejenak di ruangan lain, pandangi foto anak pada pose yang paling lucu. Itu akan mengingatkan betapa kita mencintai mereka betapapun mereka sering membuat kita sakit kepala. Jeda-jeda ini memungkinkan kita menelusuri kembali apa persoalan sebenarnya. Kita lebih rasional dan terhindar dari mengambil tindakan yang terlalu cepat seperti menjewer anak atau menumpahkan kata-kata yang menyakitkan. Setidaknya, kalau kita memang merasa perlu memberi teguran keras atau sedikit hukuman fisik, itu sudah dilandasi pemikiran yang lebih rasional.
Kesal karena menunggu? Menunggu adalah pekerjaan yang sangat menyebalkan. Mengantri, terjebak kemacetan, duh! Nah, mulai sekarang jadikan menunggu menjadi sebuah kesempatan emas melakukan sesuatu. Kerjakan hal-hal yang Anda sukai dan mungkin sulit untuk sempat dilakukan. Mengerjakan teka-teki silang, memecahkan soal sudoku, membaca novel atau komik, mendengarkan musik atau rekaman ceramah spiritual dan bisnis, atau bahkan menyulam dan merajut! Seorang kawan pernah dengan tenang memanfaatkan waktu delay penerbangan yang berjam-jam untuk menyelesaikan sulaman taplaknya. Ketika waktu boarding tiba, sementara orang lain bergerak bersungut-sungut, dia tampak puas karena taplaknya sudah hampir selesai! Jadi, ketika Anda kesal menunggu, jangan hanya mengandalkan SMS-an dengan teman-teman. Yang ada, Anda menyebarkan kemarahan Anda lewat SMS dan teman Anda malah mengukuhkan kemarahan Anda!
Nah, seperti pepatah tentang api, kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan, kelola amarah Anda agar bisa menjadi “kawan”.

Bicara Dengan Bahasa Hati


Tak ada musuh yang tak dapat ditaklukkan oleh cinta. Tak ada penyakit yang tak dapat disembuhkan oleh kasih sayang. Tak ada permusuhan yang tak dapat dimaafkan oleh ketulusan. Tak ada kesulitan yang tak dapat dipecahkan oleh ketekunan. Tak ada batu keras yang tak dapat dipecahkan oleh kesabaran. Semua itu haruslah berasal dari hati anda.    
Bicaralah dengan bahasa hati, maka akan sampai ke hati pula. Kesuksesan bukan semata-mata betapa keras otot dan betapatajam otak anda, namun juga betapa lembut hati anda dalam
menjalani segala sesuatunya.Anda tak kan dapat menghentikan tangis seorang bayi hanya dengan merengkuhnya dalam lengan yang kuat. Atau, membujuknya dengan berbagai gula-gula dan ata-kata manis. Anda harus mendekapnya hingga ia merasakan detak jantung yang tenang
jauh di dalam dada anda.
Mulailah dengan melembutkan hati sebelum memberikannya pada
keberhasilan anda.